Content Category : Web Info

Ketidakpastian Pilpres Terus Menekan Rupiah

Ketidakpastian Pilpres Terus Menekan Rupiah

Laju nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berpotensi melanjutkan penurunannya. Namun, Rupiah diharapkan dapat melemah terbatas. Analis Trust Securities, Reza Priyambada, memperkirakan Rupiah bergerak di level Rp11.715-Rp11.694 per USD menurut kurs tengah Bank Indonesia (BI). "Laju Rupiah di bawah level support Rp11.638 per USD," ucap Reza di Jakarta. Reza menambahkan, laju Rupiah kian dijauhi pelaku pasar dan terus menunjukkan penurunan. Hal ini dikarenakan masih adanya wait and see terhadap kondisi politik pasca Pilpres yang berujung pada adanya risiko ketidakpastian baru. "Membuat laju Rupiah kian ditinggalkan," sambungnya. Di sisi lain, seperti biasa jelang pidato testimonial The Fed, membuat laju dolar AS bergerak menguat, karena adanya ekspektasi akan perbaikan ekonomi AS. "Sehingga nantinya akan membuat The Fed akan sesegera mungkin mengurangi pembelian obligasinya," sebutnya. Pada perdagangan kemarin, Rupiah ditutup melemah 71,30 poin atau 0,61 persen menjadi Rp11.736 per USD pada perdagangan non-delivery forward (NDF). Sementara BI mencatat Rupiah berada di nilai tengah Rp11.709
Rupiah Awali Perdagangan di Level Rp11.800/USD

Rupiah Awali Perdagangan di Level Rp11.800/USD

Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan. Investor nampaknya masih menanti kepastian dari pemilihan umum presiden (Pilpres), yang akan diumumkan pada 22 Juli oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Rupiah pada perdagangan non-delivery forward (NDF) melemah 83,70 poin atau 0,71 persen menjadi Rp11.820 per USD. Rupiah pagi ini bergerak di kisaran Rp11.810-Rp11.832 per USD. Padahal, dolar AS tidak banyak berubah, setelah Gubernur The Federal Resereve Janet Yellen memutuskan untuk menunda pemangkasan stimulus. Yellen mengatakan kepada anggota parlemen Senat bahwa suku bunga bisa naik lebih cepat jika pasar tenaga kerja meningkat lebih cepat. Sebuah indeks yang mengukur dolar AS diperdagangkan mendekati level tertinggi tiga mingguan, sebelum data AS hari ini yang mungkin menunjukkan output pabrik naik, dan mendukung prospek agar suku bunga Bank Sentral AS dinaikkan. Yellen mengatakan akan mempertahankan kebijakan moneter yang longgar sampai data upah menunjukkan efek dari krisis keuangan benar-benar hilang. Meskipun laporan pekerjaan baru ini kuat dan tanda-tanda
Kuartal II, Bank Makin Sulit Beri Pinjaman

Kuartal II, Bank Makin Sulit Beri Pinjaman

Lewat survei perbankan yang dilakukan Bank Indonesia (BI), tercatat pertumbuhan kredit baru pada kuartal II-2014 mengalami peningkatan. Hal ini terbukti dari nilai saldo bersih terimbang (SBT) yang mengalami peningkatan. Peningkatan permintaan kredit baru pada kuartal II-2014 juga tercermin dari penurunan persentase responden yang memiliki realisasi kredit baru di bawah target, yaitu dari 74,4 persen menjadi 67,4 persen. Sejalan dengan peningkatan permintaan kredit baru tersebut, responden perbankan ditengarai semakin mengetatkan kebijakan penyaluran kreditnya," demikian ungkap survei perbankan BI. Ini tercermin dari kenaikan persentase jumlah aplikasi pengajuan kredit baru yang ditolak sebesar 12,9 persen, lebih tinggi dari kuartal sebelumnya 12,1 persen. Selain itu, permintaan kredit dari sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM) juga meningkat pada kuartal II-2014, sebaliknya permintaan kredit baru dari nasabah non-UMKM mengalami penurunan.
Rupiah Menguat Signifikan, Ini Alasannya

Rupiah Menguat Signifikan, Ini Alasannya

Laju nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berada di zona hijau sepanjang pekan kemarin. Laju Rupiah bergerak diatas target support Rp12.000 per USD. Menurut kurs tengah Bank Indonesia (BI), Rupiah juga bergerak ke level Rp11.796-Rp11.534 per USD. Menurut Analis Trust Securities Reza Priyambada komentar dari Direktur International Monetary Fund (IMF) yang membuat laju nilai tukar sejumlah mata uang emerging market mengalami pelemahan. Tetapi, tidak banyak berimbas pada laju nilai tukar Rupiah yang mampu terapresiasi seiring menanggapi positif hasil debat Capres dan Cawapres di sesi akhir," ucap Reza. Reza menambahkan, selain itu juga merespon rilis posisi cadangan devisa akhir Juni yang mencapai USD107,7 miliar, meningkat dari posisi akhir Mei sebesar USD107 miliar. Masih adanya optimisme akan berlangsungnya pilpres yang aman, damai, lancar, dan terkendali membuat laju nilai tukar Rupiah masih melanjutkan penguatannya.