Content Category : Media

Suplai Dolar Penyebab Pelemahan Rupiah

Suplai Dolar Penyebab Pelemahan Rupiah

Nilai tukar Rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) masih melemah. Rupiah belum mampu beranjak dari level Rp12.200 per USD. Menurut Pengamat Valas Farial Anwar, pelemahan yang terjadi pada Rupiah dikarenakan kurangnya supply dan demand dolar dari ekspor yang tidak masuk ke dalam negeri. Memang problem dasarnya adalah pada supply dolar dan defisit negara secara global yang sangat berpengaruh. Suplai dolar kita hanya dari Bank Indonesia (BI). Selain itu, faktor eksternal tidak mendukung dan ditambah dengan neraca perdagangan yang defisit" ujarnya . Lebih jauh Farial menjelaskan bahwa pelemahan yang terjadi karena banyaknya eksportir yang memarkir dolarnya di negara lain seperti Singapura karena lebih menguntungkan. Selain itu anjloknya Rupiah juga akan mempengaruhi seluruh sektor yang ada di Indonesia. Anjloknya Rupiah akan memberatkan ekonomi Indonesia di semua sektor, terutama sektor usaha. Bahan baku jadi naik dan akan memberatkan usaha, hal ini bisa menyebabkan kredit macet.
Rupiah Anjlok, Ini Respons Jokowi

Rupiah Anjlok, Ini Respons Jokowi

Lagi, nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi dibuka melemah ke level Rp12.213 per USD. Pelemahan ini salah satunya dipengaruhi oleh situasi politik domestik. Apa tanggapan Presiden RI terpilih Joko Widodo (Jokowi)? Menurutnya, hal ini tidak terlepas dari kekecewaan pelaku pasar atas hal tersebut dan itu direspons secara negatif. Memang, saya sampaikan, sinyal yang ditangkap pasar direspons itu negatif," kata Jokowi di Jakarta nternational Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta. Jokowi menambahkan, pasalnya saat ini situasi politik terus dipantau oleh pasar dan jangan sampai keputusan tersebut membuat pasar kecewa. Oleh sebab itu saya pesan kepada politisi-politisi, elit-elit politik, berpesan agar setiap tingkah laku kita, setiap kebijakan dan produk-produk birokrasi kita dilihat pasar, rakyat," sebutnya. Untuk itu, Jokowi meminta agar hal ini dapat dicegah dengan melihat kondisi pasar yang ada. "Kalau direspons negatif itu harus didengar.  Mendengar keinginan rakyat dan pasar," pungkasnya.
Sentimen Positif, Rupiah Berpeluang Menguat

Sentimen Positif, Rupiah Berpeluang Menguat

Nilai tukar Rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak di atas level resisten Rp12.234 per USD. Menurut kurs tengah Bank Indonesia (BI), Rupiah akan berada di kisaran Rp12215-12180 per USD. Laju Rupiah pun masih memiliki peluang kenaikan lanjutan dengan asumsi di dukung oleh sentimen yang ada,” kata Head of Research Woori Korindo Securities Indonesia (WKSI) Reza Priyambada dalam risetnya. Sebelumnya, menurut Reza, rilis FOMC meeting yang belum menentukan kepastian waktu untuk menaikkan suku bunga Fed rate tampaknya di respons dengan pelemahan dolar. Tentu saja kondisi tersebut membuat sejumlah laju mata uang Asia Pasifik bergerak menguat. Dimotori oleh Yen yang mengalami apresiasi dan diikuti oleh Taiwan dollar, Yuan, Rupee, dan lainnya. Kondisi ini pula yang akhirnya berimbas positif pada pembalikan arah Rupiah,” jelasnya. Di sisi lain, penilaian mulai berkurangnya sentimen dari kondisi politik paling tidak dapat memberikan kesempatan bagi Rupiah untuk bernafas.
Menguat Tipis, Rupiah Parkir di Rp12.139/USD

Menguat Tipis, Rupiah Parkir di Rp12.139/USD

Nilai tukar rupiah pagi ini dibuka menguat tipis jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sehari sebelumnya.  Jumat (3/10/2014), rupiah dibuka berada di level Rp12.139 per USD.  Range harian pergerakan nilai tukar pada hari ini akan berada di kisaran Rp12.133-Rp12.195 per USD. Dibandingkan dengan data Bank Indonesia, rupiah berada di level Rp12.136 per USD. Adapun pergerakan nilai tukar rupiah masih akan dipengaruhi oleh kondisi politik dalam negeri. Faktor politik domestik yang terus memanas menjadi satu-satunya alasan yang tersisa untuk rupiah tetap melemah. Namun demikian, rupiah dapat bergerak menguat pada hari ini. Hari ini pelemahan rupiah berpeluang terhenti dengan turunnya dolar index serta langkah Presiden menerbitkan Perpu Pilkada," ungkap tim Samuel Sekuritas dalam risetnya.