Content Category : Media

Rupiah Menguat Pasca-putusan MK

Rupiah Menguat Pasca-putusan MK

Pada transaksi pagi ini, Jumat (22/8/2014), nilai tukar mata uang rupiah perkasa ke level tertinggi dalam tiga pekan terakhir. Data Bloomberg menunjukkan, pada pukul 09.38 WIB, rupiah menguat 0,2 persen menjadi Rp 11.662 per dollar AS. Bahkan, pada transaksi sebelumnya, mata uang Garuda ini sempat bertengger di level Rp 11.643 per dollar AS yang merupakan level paling perkasa sejak 1 Agustus lalu. Sementara itu, nilai tukar rupiah di pasar non-deliverable forwards (NDF) untuk pengantaran satu bulan ke depan menguat 0,2 persen menjadi Rp 11.715 atau melemah 0,5 persen dibanding nilai tukar rupiah di pasar spot. Analis mengatakan, penguatan rupiah terjadi setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menolak seluruh gugatan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa. Itu artinya, pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla merupakan pemenang dalam Pemilu Presiden 9 Juli lalu. Hasil keputusan MK yang menegaskan kemenangan Jokowi-JK menghilangkan ketidakpastian besar saat ini. Selain itu, saat ini pelaku pasar juga tengah menunggu pernyataan Janet Yellen (pimpinan The
Ekonom: “Jokowi Effect” Ibarat Makanan yang Keburu Dingin

Ekonom: “Jokowi Effect” Ibarat Makanan yang Keburu Dingin

Jokowi Effect”, frasa ini acapkali muncul untuk menggambarkan dampak kemenangan Joko Widodo (Jokowi) dalam kontestasi politik terhadap perekonomian, utamanya di pasar keuangan dan saham. Biasanya, efek ini terlihat salah satunya dari penguatan nilai tukar mata uang Garuda terhadap dollar AS. Sebelumnya telah dibuktikan, setelah hasil hitung cepat lembaga survei terkait Pilpres 9 Juli 2014 dirilis, nilai tukar Rupiah menguat bahkan melonjak ke level tertinggi selama tujuh pekan, menembus Rp 11.518 per dollar AS. Penguatan kembali terjadi setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengeluarkan hasil resmi rekapitulasi Pilpres, pada 22 Juli 2014 lalu. Rupiah kembali bertengger di level Rp 11.484 per dollar AS. Diprediksi, “Jokowi Effect” akan berulang pasca-putusan Mahkamah Konstitusi terkait hasil sengketa Pilpres. Namun, menurut Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada, A Tony Prasetiantono, kali ini putusan MK tidak akan memberikan lompatan lebih tinggi terhadap penguatan Rupiah, dibanding ketika rilis hasil KPU. Rasanya tidak. Dugaan saya hanya sampai Rp 11.500-an
Dolar AS Melemah, Seiring Serangan Ukraina pada Rusia

Dolar AS Melemah, Seiring Serangan Ukraina pada Rusia

Yen Jepang dan Swiss franc menguat karena permintaan aset safe haven meningkat, setelah pasukan Ukraina menyerang dan menghancurkan iring-iringan mobil lapis baja milik Rusia. Mata uang emerging market seperti Rusia anjlok, setelah sebuah laporan mengatakan Ukraina telah melakukan provokasi. Dolar Amerika Serikat (AS) menyentuh level terendah dua pekan, setelah sebuah laporan menunjukkan bahwa manufaktur di wilayah New York turun lebih dari perkiraan. Dolar-yen bereaksi terhadap headline Ukraina, dan menunjukkan risiko geopolitik belum benar-benar tenang sampai sekarang," kata ekonom senior di Nomura Securities International Inc, Charles St-Arnaudi . Perbuatan salah satu dari mereka akan menciptakan volatilitas, tergantung bagaimana isu itu akan berkembang. Kita masih harus menunggu Rusia, untuk melihat apa yang terjadi," tambah dia. Yen Jepang menguat 0,1 persen menjadi 102,36 per USD. Namun, mata uang Jepang ini turun 0,2 persen menjadi 137,16 terhadap euro. Sementara Euro naik 0,3 persen ke USD1,3401 per euro setelah sempat merosot ke USD1,3333 per euro pada 6 Agustus, terendah
Sentimen Negatif Masih

Sentimen Negatif Masih "Hantui" Pergerakan Rupiah

Laju nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini diperkirakan akan bergerak di bawah level support Rp11.741 per USD. Sementara menurut kurs tengah Bank Indonesia (BI), Rupiah bergerak dilevel Rp11.768-Rp11.742 per USD. Sentimen negatif bawa Rupiah melemah dan kemungkinan masih akan menghantui laju Rupiah," ungkap Analis Trust Securities Reza Priyambada di Jakarta Reza menjelaskan, imbas tidak bergemingnya Rusia terhadap sanksi yang akan dikenakan oleh AS dan Eropa memberikan tekanan pada sejumlah mata uang emerging market karena dianggap terjadi peningkatan risiko. Dengan kondisi tersebut, tentu laju dolar akan memanfaatkan untuk menguat. "Akibatnya, sudah dapat diperkirakan bawah Rupiah kita ikut terhempas," paparnya. Turunnya poundsterling dan naiknya USD terhadap Euro menambah sentimen negatif.