Content Category : Media

Setelah Pilpres, Rupiah Diperkirakan Kembali Menguat

Setelah Pilpres, Rupiah Diperkirakan Kembali Menguat

Ekonom Senior Standard Chartered Bank Indonesia Fauzi Ichsan memperkikan, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS akan kembali menguat seusai pemilihan presiden. Hal ini seiring dengan berkurangnya ketidakpastian politik. Kita melihat pasca pilpres terutama pasca pembentukan pemerintahan baru bulan Oktober nanti, rupiah diperkirakan akan menguat terus ke arah Rp 11.500 hingga Rp 11.600 per dollar AS," kata Fauzi di Hotel Mulia Senayan. Perkiraannya tersebut didasarkan kepada beberapa alasan. Pertama, ia memandang defisit transaksi berjalan Indonesia akan lebih kecil pada semester II tahun ini, dengan tetap tingginya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI rate. Informasi saja, BI melaporkan defisit transaksi berjalan pada kuartal I 2014 mencapai 2,06 persen dari Produk Domestik Bruto atau PDB atau 4,2 miliar dollar AS. Adapun BI rate saat ini berada pada posisi 7,5 persen. (Alasan) yang kedua, dengan ketidakpastian politik yang berkurang, otomatis aliran modal asing akan kembali masuk ke Indonesia. Ini akan membuat rupiah menguat kembali ke arah
Sentimen Global Bayangi Rupiah

Sentimen Global Bayangi Rupiah

Nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak tertekan atas dollar AS di akhir pekan ini. Sentimen global memperkuat posisi dollar AS. Walaupun tidak mengubah suku bunga acuan dan memperkenalkan instrumen baru, Bank Sentral Eropa (ECB) tetap optimistis inflasi akan naik karena stimulus moneter. ECB juga mengatakan kemungkinan strategi cetak uang masih terbuka di masa depan. Ditambah dengan faktor tingkat pengangguran AS yang terpangkas hingga 6,1 persen dini hari tadi, dollar index menguat tajam hingga 80,21 sementara yield US Treasury 10 tahun naik hingga 2,64 persen. Tren penguatan dollar AS diperkirakan bertahan di pasar Asia hari ini. Retail PMI Zona Eropa ditunggu sore ini,  pasar AS akan tutup karena libur hari kemerdekaan.  Kemarin rupiah kembali melemah walaupun hanya tipis bersama dengan beberapa mata uang di Asia. Menurut riset Samuel Sekuritas Indonesia penguatan dollar AS akibat memburuknya data Zona Eropa serta membaiknya data AS masih akan mendorong pelemahan rupiah hari ini walaupun hilangnya risiko harga minyak bisa sedikit
Singapura Hentikan Penerbitan Uang Pecahan 10.000 Dollar

Singapura Hentikan Penerbitan Uang Pecahan 10.000 Dollar

Otoritas Moneter Singapura (MAS) mengumumkan rencana penghentian penerbitan uang kertas pecahan 10.000 dollar Singapura pada 1 Oktober 2014 mendatang. Deputy Managing Director MAS Ong Chong Tee mengatakan perkembangan dan semakin majunya sistem pembayaran elektronik yang aman telah mengurangi kebutuhan transaksi berbasis uang tunai pecahan besar. Selain itu, Ong menambahkan, keputusan menghentikan penerbitan uang kertas ini adalah upaya menghentikan "ketidaknyamanan." "Peredaran uang kertas 10.000 dollar Singapura yang ada saat ini tetap legal, termasuk seluruh uang di bawah Currency Interchangeability Agreement dengan Brunei Darussalam. Ong menjelaskan pihaknya berharap stok uang kertas pecahan 10.000 dollar Singapura secara bertahap akan berkurang. Selain itu, uang yang sudah usang akan dikembalikan kepada MAS dan tidak akan diedarkan lagi.  
Pilpres Makin Dekat, Rupiah Terpuruk Lagi

Pilpres Makin Dekat, Rupiah Terpuruk Lagi

Rupiah kembali melemah di siang hari ini. Berdasarkan kurs referensi Bank Indonesia atau JISDOR, rupiah berada di Rp 11.854 per dollar AS. Kurs tengah pengawas moneter ini melemah 0,47 persen dibanding acuan kemarin di Rp 11.798 per dollar AS. Sedangkan rupiah di pasar spot melemah mendekati USD/IDR 12.000. Rupiah berada di harga Rp 11.940 per dollar AS, melemah dibanding penutupan kemarin di level USD/IDR 11.864. Pada 26 Juni lalu, rupiah di pasar spot ditutup di Rp 12.099 per dollar AS. Sentimen positif neraca perdagangan Indonesia yang surplus di bulan Mei tak lagi menjadi bahan bakar penguatan rupiah. Kini, pasar memperhatikan sentimen pemilu presiden (pilpres) yang digelar 9 Juli nanti. Volatilitas semakin berat di tengah meningkatnya ketidakpastian pilpres. Inilah yang menekan pergerakan rupiah," kata Raditya Ariwibowo, Analis Riset Tresuri di Bank Negara Indonesia. Pekan lalu, Morgan Stanley merilis, kemenangan calon presiden Prabowo Subianto akan mendorong pelemahan rupiah sampai Rp 12.300 per dollar AS.