Content Post By : June, 05 2014

Mata Uang Indonesia Menuju Rp 12.000 Per Dollar AS

Mata Uang Indonesia Menuju Rp 12.000 Per Dollar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS kian terpuruk. Di pasar spot pada Rabu (4/6/2014), kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) terpangkas 0,68 persen dibandingkan hari sebelumnya ke Rp 11.890. Kurs tengah Bank Indonesia (BI) juga menunjukkan rupiah melemah tipis 0,03 persen ke Rp 11.810. Daru Wibisono, Senior Researcher and Analyst PT Monex Investindo Futures, mengatakan dalam tiga pekan terakhir rupiah terpuruk. Rupiah loyo akibat faktor fundamental ekonomi domestik. "Neraca perdagangan April 2014 defisit, jauh dari ekspektasi," kata Daru.Ada kekhawatiran defisit dagang kuartal III-2014 lebih lebar. Apalagi di Juni-Agustus, tingkat inflasi mencapai puncak, seiring datangnya Ramadan dan Lebaran. Prediksi Daru, nilai rupiah melemah menuju Rp  12.000 per dollar AS selama sepekan ke depan. Dari eksternal, Mika Martumpal, Research and Strategy Head Treasury and Capital Market Bank CIMB Niaga mengatakan, dollar AS menguat terhadap mata uang global. Data ekonomi AS yang terus membaik memunculkan spekulasi, Bank Sentral AS akan menaikkan bunga lebih awal.
Survei BI: Lonjakan Harga Terjadi Hingga November

Survei BI: Lonjakan Harga Terjadi Hingga November

Tekanan harga setelah bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri, pada Agustus 2014, diperkirakan masih tetap tinggi. Hal ini terindikasi dari indeks ekspektasi harga (IEH) tiga bulan mendatang. Bank Indonesia (BI) dalam survei indeks keyakinan konsumen (IKK), mencatat IEH tiga bulan mendatang mencapai 182. Angka ini lebih tinggi ketimbang bulan sebelumnya di 176,3. Masih berlanjutnya kenaikan harga diperkirakan terjadi pada semua kelompok barang, tertinggi pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau," tulis BI dalam riset tersebut di Jakarta. BI mencatat, peningkatan ekspektasi harga tiga bulan mendatang terjadi di 10 kota yang disurvei, dengan kenaikan terbesar di Samarinda sebesar 15 poin, dan Jakarta 12,4 poin. Sementara itu, tekanan kenaikan harga pada enam bulan mendatang, hingga November 2014, juga diperkirakan meningkat. "Hal tersebut tercermin dari peningkatan IEH enam bulan mendatang sebesar 3,1 poin dari sebelumnya 178,3 poin," tambah riset tersebut. Menurut BI, adanya kekhawatiran konsumen terhadap kecukupan pasokan barang konsumsi dan penurunan subsidi pemerintah, menjadi faktor utama
Dolar AS Masih Jadi Jawara Valuta Asing

Dolar AS Masih Jadi Jawara Valuta Asing

Euro berada 0,1 persen dari level terlemah tiga bulanan. Indeks yang mengukur volatilitas mata uang kemarin menguat ke dua minggu tertinggi, karena para pedagang berspekulasi tentang kebijakan yang akan diambil Bank Sentral Eropa. Euro jatuh terhadap dolar kemarin, karena Presiden ECB Mario Draghi dan rekan-rekannya telah mengisyaratkan semua opsi untuk didiskusikan. Dolar Amerika Serikat (AS) telah menguat terhadap 15 dari 16 mata uang utama. Sebuah laporan menunjukkan AS menambahkan lebih dari 200.000 pekerjaan pada Mei. Konsensus pasar melihat setidaknya ada penurunan suku bunga, tapi apa yang dilakukan ECB adalah pertanyaannya. Apa pun itu, saya ragu mereka akan berhenti di situ. Kecenderungan untuk melemahnya euro akan terus berlanjut," kata wakil presiden Sumitomo Mitsui Trust Bank Ltd, Yasuhiro Kaizaki, seperti dilansir dari Euro ditutup di USD1,3601 per euro, sementara euro terhadap yen Jepang sedikit berubah pada 139,68 per yen Jepang dari 139,72 per yen Jepang. Sedangkan dolar AS dibeli di 102,70 per USD dari 102,75