Content Post By : December, 08 2014

Rupiah Terlemah dalam 6 Tahun Terakhir

Rupiah Terlemah dalam 6 Tahun Terakhir

Rupiah membuka pekan ini dengan pelemahan terhadap dollar Amerika Serikat. Mengutip Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp 12.352 per dollar AS. Rupiah melemah 0,45 persen jika dibandingkan dengan posisi akhir pekan lalu yang di level Rp 12.296 per dollar AS. Di pasar spot,rupiah sempat menyentuh Rp 12.375 per dollar AS pada pukul 10:48 WIB. Ini merupakan level rupiah terlemah sejak November 2008. Sepanjang enam tahun terakhir, rupiah pernah menyentuh Rp 12.650 per dollar AS, pada 24 November 2008. Dollar AS kembali menunjukkan kekuatan. Bloomberg Dollar Spot Index yang menyusuri kekuatan dollar AS terhadap 10 mata uang utama dunia, menguat ke level 1.122,69. Ini merupakan level terkuat dollar sejak Maret 2009.
Tahun Depan, Rupiah Bisa Menguat ke Level Rp 10.000-an

Tahun Depan, Rupiah Bisa Menguat ke Level Rp 10.000-an

Pengamat ekonomi Universitas Indonesia Faisal Basri memiliki keyakinan kuat bahwa nilai tukar rupiah bakal menguat tahun depan, di level Rp 10.000-an. Jauh lebih optimistis dari prediksi Bank Indonesia dan Pemerintah. Penopang utamanya, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM),” kata dia, dalam Seminar Nasional “Outlook Perekonomian Indonesia tahun 2015. Penopang keduanya, Faisal melanjutkan, adalah sektor otomotif. Defisit neraca dari sektor otomotif sudah mulai berkurang. Sepanjang Januari-Oktober 2014 defisit sektor otomotif ditaksir hanya 1 miliar dollar AS. Jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya yang justru boros devisa lantaran kebanyakan impor. Hingga akhir tahun prediksinya defisit 1,2 - 1,3 miliar dollar AS. Dan kita sudah eskpor mobil 258.000 unit,” kata Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas itu. Jadi selain boros BBM (dampak negatif), otomotif memberikan kontribusi nyata pada penguatan rupiah. Saya sudah ngobrol dengan Menperin, bagaimana ini diiringi dengan peningkatan komponen lokal terus-menerus,” terang Faisal. Selain itu, harga komoditi yang menurun diperkirakan sudah mencapai titik rendahnya, dan kembali