Tag : harga

Daging Impor Sebabkan Jeroan & Tetelan Mahal

Daging Impor Sebabkan Jeroan & Tetelan Mahal

Masuknya daging impor dikeluhkan para peternak karena membuat komoditi jeroan dan tetelan menjadi tidak laku. Akibatnya, sebagian peternak ingin menaikan harga daging untuk menggantikan potensial lost dari jeroan. Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi mengatakan, masalah ini memang cukup kompleks. Ditambah lagi, menjelang Hari Raya Lebaran harga daging cenderung mengalami lonjakaan. Ya itu memang sesuatu yang sedang kita perhatikan, jadi sebenarnya kalau dicermati, pasar daging itu tidak sederhana, permasalahannya cukup kompleks," ungkapnya di Gedung Kementerian Perdagangan. Dia melanjutkan, meningkatnya harga jeroan, tentu saja akan memberikan andil pada pergerakan harga pangan. Oleh karena itu, komoditi tersebut juga harus mendapatkan perhatian. "Itu yang kita perhatikan termasuk bagaimana indikasi kebutuhan jeroan nanti kaitannya dengan beban harga pasokan dalam negeri," tuturnya. Menurutnya, masalah daging itu tidak sesederhana harga naik lalu dilepas. Dia menjelaskan, pemerintah harus mengetahui bagaimana kebiasaan para peternak. "Karena bukan ketika harga naik atau tidak, tapi kapan mereka mau lepasnya, inilah kompleksitasnya.
Survei BI: Lonjakan Harga Terjadi Hingga November

Survei BI: Lonjakan Harga Terjadi Hingga November

Tekanan harga setelah bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri, pada Agustus 2014, diperkirakan masih tetap tinggi. Hal ini terindikasi dari indeks ekspektasi harga (IEH) tiga bulan mendatang. Bank Indonesia (BI) dalam survei indeks keyakinan konsumen (IKK), mencatat IEH tiga bulan mendatang mencapai 182. Angka ini lebih tinggi ketimbang bulan sebelumnya di 176,3. Masih berlanjutnya kenaikan harga diperkirakan terjadi pada semua kelompok barang, tertinggi pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau," tulis BI dalam riset tersebut di Jakarta. BI mencatat, peningkatan ekspektasi harga tiga bulan mendatang terjadi di 10 kota yang disurvei, dengan kenaikan terbesar di Samarinda sebesar 15 poin, dan Jakarta 12,4 poin. Sementara itu, tekanan kenaikan harga pada enam bulan mendatang, hingga November 2014, juga diperkirakan meningkat. "Hal tersebut tercermin dari peningkatan IEH enam bulan mendatang sebesar 3,1 poin dari sebelumnya 178,3 poin," tambah riset tersebut. Menurut BI, adanya kekhawatiran konsumen terhadap kecukupan pasokan barang konsumsi dan penurunan subsidi pemerintah, menjadi faktor utama
Harga Ayam Melambung, 40 Persen Pedagang Gulung Tikar

Harga Ayam Melambung, 40 Persen Pedagang Gulung Tikar

Menjelang Bulan Ramadan, harga ayam potong di Bandung Raya (Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi) melonjak naik hingga mencapai angka Rp 34ribu. Ketua Persatuan Pedagang Ayam Bandung, Yoyo Sutarya, mengatakan, sejak dua minggu terakhir harga ayam yang semula seharga Rp 26 ribu mulai melonjak naik hingga Rp 32-34 ribu perkilogram. Kenaikan itu mungkin saja karena pasokan barang sedang susah, dan ada juga kemungkinan monopoli dari DOC-nya," kata Yoyo saat ditemui di Pasar Eks Bazar Matahari Cicadas, Kota Bandung. Menurutnya, dengan melonjaknya harga tersebut pihaknya merasa keberatan. Bahkan hingga kini sekira 40 persen pedagang ayam di Bandung Raya sudah gulung tikar lantaran selalu merugi setiap harinya. Dia mencontohkan, dari 100 pedagang ayam di Pasar Eks Bazar Matahari sekitar 40 diantaranya sudah guling tikar ‎sejak dua minggu lalu. Biasanya pedagang itu menjual 200-500 ekor ayam per harinya, tapi sekarang paling 150 ekor saja. Itu ppun kita asal ada, bar pelanggan tidak kecewa," ungkapnya. Pihaknya berharap
Harga Jeruk Medan Lebih Mahal dari Mandarin, Ini Alasannya

Harga Jeruk Medan Lebih Mahal dari Mandarin, Ini Alasannya

Peneliti Indef Achmad Heri Firdaus memberikan contoh bahwa harga lokal jauh lebih mahal dibandingkan dengan impor, salah satunya harga Jeruk Medan (lokal) saat ini sekira Rp20.000 per kg, namun dibandingkan dengan harga Jeruk Mandarin (impor) yang sekira Rp17.000 per kg. Kenapa bisa begini? Pasti masyarakat lebih memilih harga yang lebih murah," ucap Heri di Jakarta. Dia menambahkan, hal ini tidak terlepas dari sangat kurangnya pembangunan infrastruktur. Dia memberikan alasan kenapa harga Jeruk Medan lebih mahal dibandingkan Jeruk Mandarin karena pengangkutan Jeruk Medan dengan truk dan berhari-hari di jalan, tanpa pengatur suhu serta beragam rintangan. Bandingkan, dengan Jeruk Mandarin diangkut dengan kapal berpengatur suhu, kapasitas ribuan kali lipat truk, bebas hambatan," tegas dia. Dia menegaskan, hal ini pun tidak terlepas dari kurang besarnya anggaran infrastruktur dibandingkan anggaran energi yang terus menyedot APBN setiap tahunnya. Anggaran infrastruktur memang meningkat, namun rasio belanja infrastruktur terhadap PDB masih di bawah 3 persen dan jauh dari level ideal 5 persen.