Tag : politik

Rupiah Anjlok, Ini Respons Jokowi

Rupiah Anjlok, Ini Respons Jokowi

Lagi, nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi dibuka melemah ke level Rp12.213 per USD. Pelemahan ini salah satunya dipengaruhi oleh situasi politik domestik. Apa tanggapan Presiden RI terpilih Joko Widodo (Jokowi)? Menurutnya, hal ini tidak terlepas dari kekecewaan pelaku pasar atas hal tersebut dan itu direspons secara negatif. Memang, saya sampaikan, sinyal yang ditangkap pasar direspons itu negatif," kata Jokowi di Jakarta nternational Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta. Jokowi menambahkan, pasalnya saat ini situasi politik terus dipantau oleh pasar dan jangan sampai keputusan tersebut membuat pasar kecewa. Oleh sebab itu saya pesan kepada politisi-politisi, elit-elit politik, berpesan agar setiap tingkah laku kita, setiap kebijakan dan produk-produk birokrasi kita dilihat pasar, rakyat," sebutnya. Untuk itu, Jokowi meminta agar hal ini dapat dicegah dengan melihat kondisi pasar yang ada. "Kalau direspons negatif itu harus didengar.  Mendengar keinginan rakyat dan pasar," pungkasnya.
Menguat Tipis, Rupiah Parkir di Rp12.139/USD

Menguat Tipis, Rupiah Parkir di Rp12.139/USD

Nilai tukar rupiah pagi ini dibuka menguat tipis jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sehari sebelumnya.  Jumat (3/10/2014), rupiah dibuka berada di level Rp12.139 per USD.  Range harian pergerakan nilai tukar pada hari ini akan berada di kisaran Rp12.133-Rp12.195 per USD. Dibandingkan dengan data Bank Indonesia, rupiah berada di level Rp12.136 per USD. Adapun pergerakan nilai tukar rupiah masih akan dipengaruhi oleh kondisi politik dalam negeri. Faktor politik domestik yang terus memanas menjadi satu-satunya alasan yang tersisa untuk rupiah tetap melemah. Namun demikian, rupiah dapat bergerak menguat pada hari ini. Hari ini pelemahan rupiah berpeluang terhenti dengan turunnya dolar index serta langkah Presiden menerbitkan Perpu Pilkada," ungkap tim Samuel Sekuritas dalam risetnya.
Setelah Pilpres, Rupiah Diperkirakan Kembali Menguat

Setelah Pilpres, Rupiah Diperkirakan Kembali Menguat

Ekonom Senior Standard Chartered Bank Indonesia Fauzi Ichsan memperkikan, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS akan kembali menguat seusai pemilihan presiden. Hal ini seiring dengan berkurangnya ketidakpastian politik. Kita melihat pasca pilpres terutama pasca pembentukan pemerintahan baru bulan Oktober nanti, rupiah diperkirakan akan menguat terus ke arah Rp 11.500 hingga Rp 11.600 per dollar AS," kata Fauzi di Hotel Mulia Senayan. Perkiraannya tersebut didasarkan kepada beberapa alasan. Pertama, ia memandang defisit transaksi berjalan Indonesia akan lebih kecil pada semester II tahun ini, dengan tetap tingginya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI rate. Informasi saja, BI melaporkan defisit transaksi berjalan pada kuartal I 2014 mencapai 2,06 persen dari Produk Domestik Bruto atau PDB atau 4,2 miliar dollar AS. Adapun BI rate saat ini berada pada posisi 7,5 persen. (Alasan) yang kedua, dengan ketidakpastian politik yang berkurang, otomatis aliran modal asing akan kembali masuk ke Indonesia. Ini akan membuat rupiah menguat kembali ke arah
Rupiah Tertekan Saat Tunggu Koalisi Parpol

Rupiah Tertekan Saat Tunggu Koalisi Parpol

Nilai tukar rupiah kembali diuji kekuatannya memasuki pekan keempat di bulan April, Senin (21/4/2014). Rupiah diproyeksikan tertekan karena sentimen eksternal dan internal, khususnya penantian publik atas koalisi partai politik menjelang pemilihan Presiden RI. Imbal hasil SUN 10 tahun mendekati 8 persen, rupiah belum beranjak dari kisaran Rp 11.400-11.450 per dollar AS. Belum ada pergerakan yang solid pada rupiah walaupun perbaikan data AS telah mengembalikan tren penguatan dollar AS di pasar global. Riset Samuel Sekuritas Indonesia meperkirakan awal pekan ini rupiah melemah bersama dengan mata uang lain di Asia. Pekan ini diperkirakan beberapa partai akan mengumumkan strategi koalisinya bersama-sama dengan nama-nama calon presiden beserta wakilnya dan pengaruhnya terhadap rupiah tidak terhindarkan.