Tag : tajam

Jelang Libur Akhir Pekan, Rupiah Masih Tertekan

Jelang Libur Akhir Pekan, Rupiah Masih Tertekan

Nilai tukar rupiah kembali diuji kekuatannya pada perdagangan Jumat (7/11/2014). Indeks dollar AS yang masih dalam kenaikan kembali berpeluang menekan posisi rupiah. Bank Sentral Eropa (ECB) siap menggelontorkan lebih banyak lagi stimulus untuk mendorong pemulihan ekonomi. Indeks dollar AS melonjak tajam sementara di sisi lain euro melemah ke level terendah dalam dua tahun terakhir. Indeks S&P 500 serta DAX Jerman menguat tajam  dengan harapan stimulus ECB. Angka jobless claims AS yang turun juga membantu penguatan indeks dollar AS hingga dini hari tadi. Malam ini ditunggu data non-farm payrolls serta unemployment rate AS yang diperkirakan sedikit memburuk.  Rupiah menguat hingga kemarin sore bersama beberapa mata uang di Asia. Sentimen penguatan dollar AS di malam sebelumnya hanya berhasil menekan beberapa mata uang di Asia. IHSG terkoreksi cukup dalam dengan asing yang mencatatkan net sell. Riset Samuel Sekuritas Indonesia menyatakan, sentimen positif yang berasal dari pernyataan ECB yang pro stimulus berpeluang mendorong penguatan harga aset rupiah hari
Poundsterling Tancap Gas

Poundsterling Tancap Gas "Lihat" Penghitungan Skotlandia

Nilai tukar Poundsterling langsung menguat tajam setelah melihat hasil penghitungan sementara referendum Skotlandia. Saat ini jumlah warga Skotlandia yang memilih tetap bersama Inggris Raya lebih banyak, ketimbang memilih Skotlandia merdeka.   Hasil penghitungan sementara itu menjadi sentimen positif bagi pelaku pasar. Bahkan, poundsterling mampu menguat tajam sejak dua pekan ini lesu terimbas isu Skotlandia merdeka. Suara yang memilih "tidak" merupakan obat yang baik bagi poudsterling," ujar Markters Strategist Westpac Banking Corp. Nilai tukar poundsterling pada pukul 10.25 WIB, terpampang di harga Rp19.843. Sementara pada pukul 11.27 waktu London, poundsterling diperdagangkan USD1,6437 atau menguat setelah sempat menyentuh harga USD1,6460.  
Proyeksi, Penguatan Rupiah Bisa Tertahan

Proyeksi, Penguatan Rupiah Bisa Tertahan

Penguatan rupiah berpeluang tertahan pada perdagangan penutup pekan ini, Jumat (14/3/2014), antara lain karena tak ada kejutan dari Bank Indonesia terkait suku bunga acuan (BI rate) yang diumumkan Kamis (13/3/2014). Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis, memutuskan BI rate bertahan di level 7,4 persen. Namun, BI memangkas proyeksi pendapatan domestik bruto untuk 2014. Riset Samuel Sekuritas Indonesia melihat masih ada kekhawatiran terhadap perbaikan neraca transaksi berjalan. Rupiah menguat tajam kemarin, menurut mereka lebih karena faktor global. Meski demikian, kombinasi membaiknya data AS dan memburuknya data China berpeluang memicu pelemahan rupiah hari ini. Masih dari eksternal, Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB) Mario Draghi mulai bereaksi atas penguatan euro yang berlebihan sesaat. Setelah data penjualan eceran dan klaim data pengangguran Amerika Serikat diumumkan membaik, euro terpangkas cukup dalam terhadap dollar AS. Dollar index menguat tajam walaupun akhirnya bergerak melandai hingga penutupan dini hari tadi waktu Indonesia. Buruknya data penjualan eceran di China menambah sentimen risiko aversion pada pagi