Tag : uang

Uang Beredar Selama Ramadhan dan Lebaran Diprediksi Capai Rp 580,3 Triliun

Uang Beredar Selama Ramadhan dan Lebaran Diprediksi Capai Rp 580,3 Triliun

Bank Indonesia (BI) memprediksi uang kartal yang diedarkan (UYD) selama periode bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri tahun ini mencapai Rp 580,3 triliun. Jumlah ini meningkat 14,5 persen dibandingkan Rp 506,6 triliun pada tahun 2013 lalu. Dengan memperhatikan realisasi UYD Idul Fitri beberapa tahun sebelumnya, UYD Idul Fitri 2014 diperkirakan sebesar Rp 580,3 triliun. UYD tahun ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2013," kata Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI Lambok Antonius Siahaan di kantornya. Di samping itu, bank sentral mencatat posisi UYD per tanggal 23 Juni 2014 sebesar Rp 453,1 triliun. Dari posisi UYD tersebut, sebagian besar uang kartal dipegang oleh masyarakat (currency outside bank atau COB) mencapai Rp 385,2 triliun (pangsa 85 persen). Sisanya sebesar Rp 67,9 triliun (pangsa 15 persen) berada di khazanah perbankan (cash in vault atau CIV). Menurut Lambok, BI akan berkoordinasi dengan perbankan dalam pemenuhan kebutuhan uang sebelum dan selama periode Ramadhan atau Idul Fitri.

Mata Uang Negara "Fragile Five" Tumbang, Rupiah Paling Berisiko

Setelah berupaya keras selama berbulan-bulan menghapus citra yang kadang kurang baik, negara-negara berkembang yang tergabung dalam "Fragile Five" kembali diuji. Krisis di Irak dan dampaknya terhadap harga minyak membuat kurs mata uang 5 negara ini kembali lemah. Rupiah Indonesia, rand Afrika Selatan, rupee India, dan lira Turki adalah yang performanya paling buruk di antara 31 mata uang yang dianalisis Bloomberg selama sebulan belakangan. Societe Generale SA dan BNP Paribas SA merekomendasikan investor melepas lira, sementara Citigroup Inc. mengidentifikasi rupee dan rupiah sebagai mata uang Asia yang paling berisiko. Kami khawatir dengan kondisi di Irak, yang menjadi potensi melemahnya performa aset negara berkembang. Minyak menjadi indikator risiko bagi negara-negara berkembang," kata Kepala Strategi Negara Berkembang Societe Generale Benoit Anne di London seperti disitat . Adapun rupiah memimpin pelemahan di antara mata uang negara-negara berkembang utama dalam sebulan belakangan. Rupiah anjlok 3,2 persen dan menyentuh level terendah dalam 4 bulan terakhir menjadi Rp 12.027 per dollar
Ada Uang Pecahan SGD 10.000 di Kasus Suap, Ini Tanggapan BI

Ada Uang Pecahan SGD 10.000 di Kasus Suap, Ini Tanggapan BI

Mata uang dolar Singapura pecahan 10.000 kembali hangat diperbincangkan. Ini tidak lepas dari penangkapan Bupati Biak Numfor Yesaya Sombuk dan 5 orang lainnya di Hotel Acacia, Jakarta Pusat, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dalam operasi tangkap tangan tersebut, KPK mendapati uang yang berjumlah sekitar 100.000 dolar Singapura. Uang itu terbagi dalam pecahan 10.000 dan 1.000. Kasus ini bukan yang pertama melibatkan 10.000 dolar Singapura. Dalam kasus suap Akil Mochtar (Mantan Ketua MK) dan Rudi Rubiadini (Mantan Kepala SKK Migas) pun ada mata uang ini. Bagaimana Bank Indonesia (BI) selaku otoritas yang berwenang dalam peredaran uang menyikapi hal ini? Belum ada pemikiran untuk membatasi peredaran itu. BI hanya mengurusi pembawaan uang keluar-masuk lintas negara di atas Rp 100 juta," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara saat ditemui di Gedung DPR/MPR/DPD, Senayan, Jakarta. BI, lanjut Tirta, hanya punya kewenangan untuk mengetahui dari mana asal uang yang masuk ke Indonesia dan untuk apa penggunaannya. "Kalau
Dolar AS Melemah, Rupiah Dibuka Menguat Rp11.776/USD

Dolar AS Melemah, Rupiah Dibuka Menguat Rp11.776/USD

Rupiah pada perdagangan non-delivery forward (NDF) dibuka menguat tipis ke Rp11.776 per USD dari Rp11.789 per USD. Rupiah pagi ini bergerak dalam kisaran Rp11.770-Rp11.781 per USD. Dolar AS tergelincir untuk sesi kedua berturut-turut terhadap beberapa mata uang utama, setelah penjualan ritel AS dan data klaim pNilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka masih berada di level Rp11.700 per USD. Rupiah mampu unjuk gigi, setelah dolar AS melemah karena serangkaian data di AS yang memburuk. Melengangguran mingguan yang meningkat, menunjukkan adanya pelemahan dalam perekonomian dan menahan spekulasi dari sikap hawkish dari Federal Reserve. Departemen Perdagangan mengatakan penjualan ritel naik 0,3 persen bulan lalu, jauh dari ekspektasi 0,6 persen. Penjualan ritel April pun direvisi menjadi sebesar 0,5 persen. Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur dolar AS dari enam mata uang utama, ditutup melemah 0,28 persen di 80,565. Sedangkan Treasury Bond AS 10-tahun terakhir naik dengan yield 2,588 persen