Tag : harapan

Pagi ini Yen meredup

Pagi ini Yen meredup

Yen pada perdagangan awal di Asia menunjukan pelemahan terhadap dolar AS, Senin (10/8) pagi. Dengan ditopang dari kenaikan suku bunga yang diprediksi di bulan September. USDJPY menguat 0.02% di level 124.31. Meskipun dari Jepang juga akan dilaporkan data current account bulan Juni dengan proyeksi penurunan di level 1.41T dari bulan sebelumnya di level 1.64T. Pad apekan lalu, Departemen tenaga kerja AS melaporkan bahwa NFP AS menambahkan 215,000 pekerjaan di bulan lalu, di bawah ekspektasi untuk peningkatan dari 223,000. Laporan menunjukkan bahwa pekerjaan 231,000 diciptakan pada bulan Juni, sosok yang direvisi dari 223,000. Sementara tingkat pengangguran AS tetap tidak berubah pada 5,3% pada bulan Juli, sesuai dengan harapan.
Rupiah Belum Mampu Saingi Dolar AS

Rupiah Belum Mampu Saingi Dolar AS

Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka bergerak volatil. Rupiah nampaknya belum bisa meraih keuntungan dari melemahnya mata uang Paman Sam. Rupiah pada perdagangan non-delivery forward (NDF) melemah tipis 7,5 poin menjadi Rp12.185 per USD. Pagi ini, Rupiah bergerak di kisaran Rp12.165-Rp12.185 per USD. Dolar AS merosot terhadap beberapa mata uang lain, seiring data konsumen, perumahan dan manufaktur AS yang mengecewakan dan memicu kekhawatiran bahwa ekonomi terbesar dunia tersebut mulai kehilangan momentum di penghujung 2014. Dolar turun 0,1 persen menjadi USD117,58 per yen setelah mencapai USD118,98 per yen, level terkuat sejak Agustus 2007. Sementara dolar AS terhadap euro berubah ke USD1,2509 per euro dari USD1,2506 per euro Belanja negara Amerika hanya naik 0,2 persen, kurang dari harapan sebesar 0,3 persen. Sedangkan belanja barang modal non-militer termasuk pesawat, secara tidak terduga turun 1,3 persen untuk bulan kedua berturut-turut. Laporan biro statistik menunjukkan Belanja modal swasta nasional meningkat 0,2 persen pada kuartal ketiga. Namun,
Rupiah Mencoba Menguat

Rupiah Mencoba Menguat

Nilai tukar rupiah diproyeksikan mencoba menguat dalam rentang tipis pada perdagangan Rabu (2/7/2014). Indeks dollar AS yang naik membatasi penguatan rupiah. Walaupun PMI manufacturing AS lebih buruk dari sebelumnya, turunnya PMI manufacturing Zona Eropa menjelang pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) Kamis (3/7/2014) esok mendorong penguatan dollar index seiring pelemahan euro. Buruknya data ekonomi, menurut riset Samuel Sekuritas Indonesia akan memaksa ECB untuk memperkenalkan strategi stimulus moneter baru yang akan cenderung melemahkan euro. Harga minyak Brent terus turun hingga 112 dollar AS per barrel. Malam ini ditunggu data ADP Employment Change AS yang diperkirakan membaik.   Faktor global membawa rupiah menguat pada pembukaan kemarin pagi bersama-sama dengan harapan data ekonomi yang baik. Akan tetapi kenyataan bahwa surplus neraca perdagangan juga diikuti oleh penurunan tajam ekspor membuat penguatan rupiah terpangkas. Hingga penutupan kemarin rupiah hanya menguat 0,09 persen ke Rp 11.864 per dollar AS. Harga minyak yang terus turun berpeluang mendorong penguatan rupiah lebih lanjut. Namun
BI Tak Ingin Ekonomi RI Melaju Terlalu Kencang

BI Tak Ingin Ekonomi RI Melaju Terlalu Kencang

Masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan segera berakhir dan digantikan oleh pemerintahan dengan presiden baru. Pergantian tersebut, akan terjadi pada Oktober 2014. Kendati demikian, Bank Indonesia (BI) berharap dengan adanya pemerintahan baru nanti memiliki program yang dapat memajukan ekonomi dalam negeri dan mempunyai terobosan yang baru. Nanti setelah Oktober baru kita tahu kabinet dan programnya. Tapi harapan kita reformasi ekonomi dan hukum akan dilanjutkan pemerintah baru," ucap Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS-BI) Mirza Adityaswara di Gedung BI, Jakarta. Mirza menambahkan, apabila reformasi ekonomi dilakukan secara tepat, ini akan menjadi penyemangat pertumbuhan ekonomi dalam negeri. "Itu harapan kita semua dan investor, di sektor riil maupun pasar keuangan," imbuhnya. Sementara itu, untuk pertumbuhan ekonomi pada tahun ini, BI tetap menargetkan di level range 5,6-5,9 persen. Jadi memang kita agak melambat tapi tidak melambat terlalu dalam. Ini memang kita lakukan istilahnya stabilisasi. Supaya impor tidak terlalu besar. Tapi perlambatan ekonomi juga tidak terlalu dalam," pungkasnya.