Tag : tekanan

Melemah Lagi, Rupiah Tembus Rp 12.000 Per Dollar AS

Melemah Lagi, Rupiah Tembus Rp 12.000 Per Dollar AS

Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini dibuka melemah tipis. Rupiah dibuka di level Rp11.977 per USD. Rupiah pada perdagangan non-delivery forward (NDF) bergerak melemah Rp10,5 atau 0,09 persen menjadi Rp11.980 per USD. Angka tersebut dibandingkan penutupan hari lalu di level Rp11.969 per USD. Hingga pukul 8.42 WIB, Rupiah bergerak di kisaran Rp11.982-Rp11.975 per USD. Dengan pergerakan 52 minggunya di kisaran Rp10.766-Rp12.281 per USD. Analist Samuel Sekuritas Rangga Cipta mengatakan, tekanan dolar yang mereda serta baiknya data manufaktur China membantu mendorong penguatan mata uang Asia hingga sore kemarin. Rupiah yang sempat melemah di pembukaan akhirnya berhasil menguat tipis di sore hari. Turunnya dollar index masih akan meredakan tekanan pelemahan terhadap rupiah," ujarnya. Dirinya mengatakan, sentimen ekonomi domestik akan perlahan difaktorkan ke rupiah. BI melihat inflasi September masih akan stabil tetapi neraca perdagangan Agustus diperkirakan masih defisit.
Rupiah Belum Mampu Beranjak dari Level Rp12.000 per USD

Rupiah Belum Mampu Beranjak dari Level Rp12.000 per USD

Tekanan dolar Amerika Serikat (AS) tampaknya belum meredup, Rupiah hingga saat ini masih berada di level Rp12.00 per USD.  Jumat (19/9/2014), Rupiah pada perdagangan non-delivery forward (NDF) melemah 21,40 poin atau 0,18 persen menjadi Rp12.003 per USD dibandingkan dengan penutupan sebelumnya Rp11.982 pe USD. Rupiah sempat dibuka di level Rp11.994 per USD. Pagi ini, Rupiah bergerak di kisaran Rp11.975-Rp12.005 per USD. Sementara itu, menurut data Yahoofinance, Rupiah berada di level Rp12.025 per USD
Rupiah Diprediksi Kembali Tertekan Usai Naik

Rupiah Diprediksi Kembali Tertekan Usai Naik

Nilai tukar rupiah diproyeksikan kembali menghadapi tekanan pelemahan pada perdagangan Selasa (5/8/2014) seiring dengan penguatan mata uang dollar AS. Buruknya angka sentix investor confidence Zona Euro serta tingginya permintaan aset safe-haven menjaga tren penguatan dollar index hingga dini hari tadi. Dollar index menguat seiring dengan yield US Treasury 10 tahun di bawah 2,5 persen. Sementara itu, investor masih menunggu dirilisnya indeks non-manufaktur China pada pagi ini. Setelah melemah tajam di akhir pekan lalu, rupiah menguat semenjak pembukaan Senin (4/8/2014) pagi. Kenyataan neraca perdagangan Juni kembali defisit sama sekali tidak memicu pelemahan rupiah. Rupiah menguat bersama mata uang lain di pasar Asia hingga Senin sore. Menurut riset Samuel Sekuritas Indonesia, penguatan dollar AS berpeluang mengembalikan tekanan pelemahan terhadap mata uang Asia termasuk rupiah. Data PDB triwulan kedua 2014 ditunggu dan diperkirakan kembali melambat ke 5,15 persen secara tahunan.
BI Senang Bank Sentral Eropa Pangkas Suku Bunga

BI Senang Bank Sentral Eropa Pangkas Suku Bunga

Bank Indonesia (BI) menyatakan pemangkasan suku bunga Bank Sentral Eropa (Europan Central Bank/ECB) akan berpengaruh terhadap perekonomian global. Terutama, terhadap emerging market seperti Indonesia. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, kebijakan ECB tersebut akan mempengaruhi bagaimana portofolio global mengalokasikan dananya dengan tappering off Amerika Serikat (AS). Dan sekarang ECB di Eropa dengan inflasi yang rendah dan kondisi ekonomi yang kurang menentu lebih kepada QE," ujar Perry. Hal itu, bisa menyebabkan tekanan suku bunga internasional yang naik akan relatif berkurang. Akibatnya, tentu saja akan berdampak pada capital inflows emerging market. Nah tarikan apa yang akan dilakukan oleh Fed dan apa yang akan dilakukan ECB, esensinya semua akan lebih kondusif kondisi ekonomi global, dan arus modal asing yang masuk ke Indonesia," paparnya. Di sisi lain, AS nampaknya memberi sinyal untuk mengurangi stimulusnya. Langkah tersebut, juga telah memberikan capital reversal pada pasar Indonesia. “Dengan ECB melakukan QE (quantitative Easing), artinya tekanan reversal yang tadinya ke AS lebih