Tag : mengalami

Laju Rupiah Masih Ditekan Kenaikan Suku Bunga As

Laju Rupiah Masih Ditekan Kenaikan Suku Bunga As

Nilai Tukar Rupiah saat ini masih belum mengalami perubahan. Nilai tukar rupiah anjlok hampir 5 hari berturut turut. Setelah imbas dari Yen jepang yang naik. Kali ini laju rupiah kembali mendapatkan tekanan dari Kenaikan suku bunga As. Kenaikan suku bunga ini membuat rupiah kembali tertekan oleh dolar As. Rupiah masih enggan bergerak dan masih berada di Rp.13.500 per dolar AS Masih minimnya sentimen positif membuat rupiah masih sulit untuk bergerak. Selain itu adanya kenaikan suku bunga As membuat terjadinya keluarnya dana asing di indonesia untuk pindah ke amerika. Sehingga dengan begitu laju Dolar As sudah tidak bisa terbendung dan mengungguli mata uang lainnya termasuk rupiah. Saat ini BI terus melakukan kebijakan moneter yang bisa membantu rupiah agar bisa bergerak masuk kedalam zona aman. Rupiah saat ini masih melemah 9,5 poin atau 0,07 persen ke Rp13.574 per USD. Rupiah cendrung tidak mengalami pergerakan namun cendrung akan melemah ke tahap lebih lanjut.
Laju Rupiah Masih Tertekan Beberapa Mata Uang

Laju Rupiah Masih Tertekan Beberapa Mata Uang

Pada perdagangan akhir pekan ini, laju rupiah masih tertekan beberapa mata uang di Asia seperti Yen Jepang. Rupiah masih diprediksi masih akan terus mengalami pelemahan. Hal tersebut merupakan imbas dari BOJ yang melakukan perpanjangan stimulus, selian itu para investor di bursa asia cendrung menjauhi beberapa mata uang di Asia yang terkena imbas dari Yen Jepang. Saat ini sektor pasar global masih bergantung terhadap harga minyak mentah dunia yang mengalami kenaikan, sehingga dengan begini mampu menekan laju dolar As untuk beberapa mata uang lainnya. namun tidak terlalu mempengaruhi terhadap Mata uang indoensia. Pelemahan Rupiah saat ini masih di picu oleh yen jepang. Yen jepang melemah akibat para pelaku pasar mewaspadai keputusan BOJ yang akan melakukan perpanjangan stimulus bulan depan untuk membantu meningkatkan perekonomian Jepang.
Kuartal II, Bank Makin Sulit Beri Pinjaman

Kuartal II, Bank Makin Sulit Beri Pinjaman

Lewat survei perbankan yang dilakukan Bank Indonesia (BI), tercatat pertumbuhan kredit baru pada kuartal II-2014 mengalami peningkatan. Hal ini terbukti dari nilai saldo bersih terimbang (SBT) yang mengalami peningkatan. Peningkatan permintaan kredit baru pada kuartal II-2014 juga tercermin dari penurunan persentase responden yang memiliki realisasi kredit baru di bawah target, yaitu dari 74,4 persen menjadi 67,4 persen. Sejalan dengan peningkatan permintaan kredit baru tersebut, responden perbankan ditengarai semakin mengetatkan kebijakan penyaluran kreditnya," demikian ungkap survei perbankan BI. Ini tercermin dari kenaikan persentase jumlah aplikasi pengajuan kredit baru yang ditolak sebesar 12,9 persen, lebih tinggi dari kuartal sebelumnya 12,1 persen. Selain itu, permintaan kredit dari sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM) juga meningkat pada kuartal II-2014, sebaliknya permintaan kredit baru dari nasabah non-UMKM mengalami penurunan.
Neraca Perdagangan Mei Surplus 69,9 Juta Dollar AS

Neraca Perdagangan Mei Surplus 69,9 Juta Dollar AS

Badan Pusat Statistik (BPS) melansir neraca perdagangan RI pada Mei 2014 mengalami surplus sebesar 69,9 juta dollar AS. Kepala BPS Suryamin menuturkan, impor pada bulan Mei mencapai 14,76 miliar dollar AS, sedangkan ekspor RI mencapai 14,83 miliar dollar AS. Terjadi pula surplus volume Mei 2014 sebesar 35,15 juta ton. Ini menunjukkan permintaan (produk RI) masih cukup tinggi,” katanya dalam rilis BPS, di kantornya. Adapun volume impor pada Mei 2014 mencapai 12,17 juta ton, sedangkan ekspor pada Mei 2014 mencapai 47,42 juta ton. Suryamin menyebutkan, neraca perdagangan migas pada Mei mengalami defisit sebesar 1,331 miliar dollar AS, sedangkan neraca perdagangan nonmigas mengalami surplus sebesar 1,4009 miliar dollar AS. Meski mengalami surplus neraca perdagangan pada Mei 2014, namun secara kumulatif Januari-Mei 2014 neraca perdagangan RI masih mengalami defisit sebesar 824 juta dollar AS. Secara kumulatif neraca perdagangan migas mengalami defisit sebesar 5,5026 miliar, sedangkan neraca perdagangan nonmigas mengalami surplus 4,6784 miliar dollar AS,” terangnya. Suryamin mengatakan, defisit kumulatif neraca