Tag : persen

Banyak Investor yang Mengejar Saham Di Pasar Modal Indonesia

Banyak Investor yang Mengejar Saham Di Pasar Modal Indonesia

Selama 2016 ini IHSG (Indeks Harga saham Gabungan) sudah bisa memberikan hasil positif. selain itu banyak faktor yang mempengaruhi seperti didukungnya oleh aliran dana investor asing yang masuk kedalam pasar modal indonesia. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 5,47 persen ke level 4.844,04 secara year to date (Ytd). Penguatan IHSG ini juga didukung sejumlah sektor saham.  Pada perdagangan pekan kemarin sektor saham barang konsumsi mencatatkan kenaikan tertinggi mencapai 17,79 persen. Kemudian disusul sektor saham manufaktur sebesar 13,96 persen dan sektor saham aneka industri sebesar 10,24 persen. Selain itu aliran dana asing pun mencapai 3,48 Triliun sepanjang tahun 2016 dan juga di dorong oleh aksi beli investor asing yang mencapai Rp 980,7 Miliar. Faktor yang mendukung semakin banyaknya investor asing masuk indonesia salah satunya ialah karena Faktor makro ekonomi, ditambah juga dengan selisih suku bunga acuan dan inflasi lebar. Tercatat suku bunga acuan di kisaran 7
Apple Jadi Raja Perusahaan Terbesar di Amerika

Apple Jadi Raja Perusahaan Terbesar di Amerika

Apple kembali merajai daftar perusahaan terbesar di Amerika Serikat (AS). Pada awal tahun ini, produsen gadget ini telah mengantongi laba kuartalan terbesar di AS. Nilai kapitalisasi pasar Apple sebesar USD698 miliar. Walau begitu, perusahaan ini hanya mendapat peringkat 33 dalam daftar perusahaan terbesar AS pada 2009. Tapi, siapa sangka peringkat Apple terpuruk pada 2009? Banyak alasan untuk itu. Karena saat itu salah satu produk teranyarnya, iPad masih rumor, Apple iPod Nano baru memiliki video kamera dan iPhone 3G baru saja dirilis. Bahkan, saham Apple anjlok 8 persen saat penjualan iPhone tidak memenuhi ekspektasi. Tapi Wall Street akhirnya mengakui Apple sebagai perusahaan kakap setelah mencatatkan pendapatan sebesar USD53 miliar pada akhir tahun ini. Demikian dilansir dari CNN, Jumat (7/8/2015). Pada periode tiga bulan terakhir di 2014, Apple mencatatkan pendapatan terbesar secara kuartalan, yakni USD18 miliar. Alhasil, dengan pendapatan sekira USD53 miliar, laba bersihnya diproyeksi menembus USD10,4 miliar. Pada kuartal I-2015, Apple menjual 61 juta unit iPhone. Dan pada kuartal
Kapan Fenomena Super Dolar AS Berakhir?

Kapan Fenomena Super Dolar AS Berakhir?

ejak pernyataan Gubernur The Federal Reservemengumumkan akan menaikkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate) muncul fenomena super dolar Amerika Serikat (AS) akibat spekulasi kebijakan tersebut. Fenomena ini merupakan tren penguatan dolar AS terhadap hampir seluruh mata uang di dunia, termasuk rupiah. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara mencatat depresiasi nilai tukar Euro terhadap dolar AS sejak Januari-Juli 2015 mencapai lebih dari 10 persen, Dolar Selandia Baru sampai 15 persen dan Krona Swedia 11-12 persen. Sementara kurs rupiah sejak Januari-Juli (year to date) tertekan 8,5 persen dan 1 persen secara month to date. Angka ini lebih baik dibanding mata uang Singapura, Malaysia dan negara ASEAN lain yang terdepresiasi lebih dari 1 persen. "Jadi ini bukan fenomena rupiah, tapi fenomena dolar AS," ucap dia saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (4/8/2015). Mirza mengakui pelemahan kurs Rupee India atau Peso Filipina relatif kecil karena India sudah berhasil menurunkan defisit transaksi berjalan secara signifikan dari 4,5 persen dari Produk
Perbankan RI Tetap Kuat Meski Rupiah Terpuruk

Perbankan RI Tetap Kuat Meski Rupiah Terpuruk

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyatakan kondisi perbankan nasional masih dalam kategori aman walaupun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus tertekan hingga menyentuh level 13.400. Ada alasan yang membuat bank-bank di Indonesia kuat dari hantaman pelemahan kurs rupiah.  Anggota Dewan Komisioner sekaligus Pelaksana Tugas Kepala Eksekutif, Fauzi Ichsan mengungkapkan, Indonesia sangat beruntung keadaan perbankan nasional saat ini jauh lebih baik dibanding periode 2008-2009.  Dari catatannya, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) bank saat ini berada di level 20 persen dan kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) 2,5 persen. Sementara di periode 2008-2009, CAR diposisi 17,5 persen.  "Kalaupun rupiah terus melemah, kondisi perbankan relatif kuat meng-absorb rupiah. Jadi kondisi bank kita relatif masih aman," tegas dia saat ditemui di kantor Bappenas, Jakarta, Rabu (29/7/2015).  Mantan Kepala Ekonom Standard Chartered Bank ini menjelaskan alasan perbankan nasional membukukan CAR tinggi karena perbaikan di masa lalu, saat krisis perbankan di 1998.  "Saat itu, bank-bank Indonesia betul-betul direstrukturisasi. Aset-aset buruk perbankan diambil BPPN