Tag : ekspor

Ekonomi Stabil, Cadangan Devisa Tiongkok Meningkat

Ekonomi Stabil, Cadangan Devisa Tiongkok Meningkat

Pada kuartal pertama, Pemerintah China telah merilis data Ekonomi selama periode April 2016. Terlhitar cadangan Devisa Tiongkok mengalami peningkatan. Hal ini menjadi indikasi, sudah semakin stabilnya perekonomian dari negri tirai bambu di tengah pertumbuhan ekonomi yang cendrung melambat. Data tersebut di rilis oleh Bank Sentral China, yang melaporkan Cadangan Devisa Meningkat US$7,09 miliar ke US$3,22 triliun sampai dengan periode April 2016. Selain itu, kenaikan cadangan devisa China di topang oleh kenaikan Ekspor pada periode yang sama yang tumbuh 4,1%. Namun dalam dominasi Dolar AS. Kinerja terlihat melemah 1,8%. Impor China tumbuh 10,9%. Sehingga dengan begitu, china membukukan neraca perdagangan sebesar US$45,6 miliar. Meningkatnya devisa Tiongkok, di picu juga oleh kinerja ekspor china yang positif sampai dengan periode 2016 yang di dukung oleh Depresiasi yuan. Walapun Bank Sentral China sempat melakukan pemangkasan suku bunga utama ke level terendah, namun data perdagangan yang di rilis masih menandakan bahwa pertumbuhan berkelanjutan masih sulit tercapai.
Ekspor Mampu Angkat Kembali Nilai Tukar Rupiah

Ekspor Mampu Angkat Kembali Nilai Tukar Rupiah

Pelemahan perekonomian di Tanah Air membuat penjualan di sektor ritel mengalami penurunan hingga 30 persen. Untuk mengatasi pelemahan tersebut, pemerintah memerlukan strategi non konvensional. di tengah perlambatan ekonomi serta pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), harusnya Indonesia memanfaatkan hal tersebut untuk mendorong ekspor. Caranya, dengan memberikan intensif kepada kredit ekspor dan mendorong industri nasional ke pasar ekspor. Sekarang penjualan ritel turun 30 pesen, ini masalah tapi juga opportunity karena 30 persen pabrik kita kelebihan produksi, rupiah lemah, itu 2 faktor yang bisa digenjot ekspor Indonesia. Asal dibantu dengan adanya kredit ekspor Langkah tersebut lebih baik ketimbang meredam rupiah dengan melakukan intervensi. "Daripada BI setiap hari intervensi US$ 250 juta itupun jebol.Dengan kredit ekspor maka pelaku usaha bisa mengirim barang dengan jumlah besar. Imbasnya, perekonomian pun bisa berangsur pulih. Padahal kalau uang itu dibikin untuk kredit ekspor, banyak pengusaha bisa kirim barang ke pelabuhan tapi nggak tahan pembayaran 4-6 bulan, kalau di kasih
Suplai Dolar Penyebab Pelemahan Rupiah

Suplai Dolar Penyebab Pelemahan Rupiah

Nilai tukar Rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) masih melemah. Rupiah belum mampu beranjak dari level Rp12.200 per USD. Menurut Pengamat Valas Farial Anwar, pelemahan yang terjadi pada Rupiah dikarenakan kurangnya supply dan demand dolar dari ekspor yang tidak masuk ke dalam negeri. Memang problem dasarnya adalah pada supply dolar dan defisit negara secara global yang sangat berpengaruh. Suplai dolar kita hanya dari Bank Indonesia (BI). Selain itu, faktor eksternal tidak mendukung dan ditambah dengan neraca perdagangan yang defisit" ujarnya . Lebih jauh Farial menjelaskan bahwa pelemahan yang terjadi karena banyaknya eksportir yang memarkir dolarnya di negara lain seperti Singapura karena lebih menguntungkan. Selain itu anjloknya Rupiah juga akan mempengaruhi seluruh sektor yang ada di Indonesia. Anjloknya Rupiah akan memberatkan ekonomi Indonesia di semua sektor, terutama sektor usaha. Bahan baku jadi naik dan akan memberatkan usaha, hal ini bisa menyebabkan kredit macet.
Lampung Jadi Pusat Pengembangan Udang Vaname Nusantara

Lampung Jadi Pusat Pengembangan Udang Vaname Nusantara

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementrian Kelautan dan Perikanan Slamet Subiakto mengungkapkan Lampung menjadi pusat uji coba rekayasa budidaya udang jenis Vaname Nusantara I. Menurut Slamet, pemerintah menginginkan agar kegiatan perikanan dan pertambakan di Lampung bangkit dan memanfaatkan laut sebagai sumber penghidupan, setelah sebelumnya dilanda kelesuan ekspor. Saat ini kesempatan sangat terbuka luas untuk para petambak maupun nelayan guna memulai budidaya udang Vaname ini, karena kebutuhan pasar ekspor yang belum terpenuhi sekitar 500.000 ton. Sedangkan biaya produksinya lebih rendah dibandingkan budidaya Udang Windu. Petambak tidak memerlukan kincir lagi dan budidaya udang ini bisa dilakukan dimana saja karena toleransi kadar garam cukup tinggi. Selain itu, berdasarkan hasil uji coba budidaya udang Vaname di Balai Besar Budidaya Perikanan Lampung (BBBPL), budiaya udang jenis ini hanya membutuhkan waktu 3 bulan untuk selanjutnya dipanen dengan keramba jaring apung 3x3 meter dan mampu menghasilkan 40-60 kilogram udang. Namun demikian budidaya udang ini masih terdapat kelemahan seperti tingkat risiko kematian mencapai 30-40