Tag : rupiah

Terus Menguat Rupiah Sentuh Level 13.911 Per Dolar AS

Terus Menguat Rupiah Sentuh Level 13.911 Per Dolar AS

Nilai tukar rupiah kembali melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu pagi ini. Penyebab penguatan tersebut adalah banyaknya sentimen positif, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah berada pada kisaran level 13.934 per dolar AS pada pukul 09.55 WIB. Rupiah dibuka menguat di level 14.180 per dolar AS dibandingkan penutupan pada hari kemarin di level 14.241 per dolar AS. Sejak pagi hingga menjelang siang ini, nilai tukar rupiah bergerak pada kisaran 13.911 hingga 14.180 per dolar AS.Sementara itu, kurs tengah atau kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah menguat 317 poin menjadi 14.065 per dolar AS pada Rabu, dari perdagangan Selasa yang berada di level 14.282 per dolar AS. rupiah menguat karena sentimen positif dari faktor eksternal dan internal. Dari faktor eksternal, katanya, data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis pada Jumat pekan lalu tidak sesuai ekspektasi pasar.hal itu akan berpotensi menunda
Ini Bahayanya Pelemahan Yuan Bagi RI

Ini Bahayanya Pelemahan Yuan Bagi RI

China sengaja melakukan devaluasi atau penurunan nilai mata uangnya, hal ini membuat pelemahan mata uang di Asia berguguran salah satunya rupiah, dolar AS jadi Rp 13.825. Kondisi ini tentu membahayakan bagi perekonomian Indonesia. "Kondisi ini tentu bahaya loh bagi kita, pemerintah sama sekali tidak memprediksi bila yuan dilemahkan, fokusnya pada suku bunga The Fed dari dulu," ungkap Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati, kepada detikFinance, Rabu (12/8/2015). Enny mengatakan, akibat lemahnya yuan, akan membuat Indonesia bisa dibanjiri barang-barang impor dari China dalam jumlah besar, sementara pemerintah tidak bisa berbuat banyak. "Kita itu punya perjanjian perdagangan bebas dengan China, mau naikin tarif bea masuk untuk tahan serbuan impor nggak akan bisa. Kita hanya bisa tahan dengan kebijakan non tarif," ungkapnya. Ia memperkirakan, kondisi akan membuat defisit perdagangan dengan China semakin besar, dan tentunya akan memukul industri dalam negeri. "Rupiah kita makin melemah, yuan makin murah, impor dari China makin besar, defisit perdagangan makin
Kapan Fenomena Super Dolar AS Berakhir?

Kapan Fenomena Super Dolar AS Berakhir?

ejak pernyataan Gubernur The Federal Reservemengumumkan akan menaikkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate) muncul fenomena super dolar Amerika Serikat (AS) akibat spekulasi kebijakan tersebut. Fenomena ini merupakan tren penguatan dolar AS terhadap hampir seluruh mata uang di dunia, termasuk rupiah. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara mencatat depresiasi nilai tukar Euro terhadap dolar AS sejak Januari-Juli 2015 mencapai lebih dari 10 persen, Dolar Selandia Baru sampai 15 persen dan Krona Swedia 11-12 persen. Sementara kurs rupiah sejak Januari-Juli (year to date) tertekan 8,5 persen dan 1 persen secara month to date. Angka ini lebih baik dibanding mata uang Singapura, Malaysia dan negara ASEAN lain yang terdepresiasi lebih dari 1 persen. "Jadi ini bukan fenomena rupiah, tapi fenomena dolar AS," ucap dia saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (4/8/2015). Mirza mengakui pelemahan kurs Rupee India atau Peso Filipina relatif kecil karena India sudah berhasil menurunkan defisit transaksi berjalan secara signifikan dari 4,5 persen dari Produk
Perbankan RI Tetap Kuat Meski Rupiah Terpuruk

Perbankan RI Tetap Kuat Meski Rupiah Terpuruk

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyatakan kondisi perbankan nasional masih dalam kategori aman walaupun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus tertekan hingga menyentuh level 13.400. Ada alasan yang membuat bank-bank di Indonesia kuat dari hantaman pelemahan kurs rupiah.  Anggota Dewan Komisioner sekaligus Pelaksana Tugas Kepala Eksekutif, Fauzi Ichsan mengungkapkan, Indonesia sangat beruntung keadaan perbankan nasional saat ini jauh lebih baik dibanding periode 2008-2009.  Dari catatannya, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) bank saat ini berada di level 20 persen dan kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) 2,5 persen. Sementara di periode 2008-2009, CAR diposisi 17,5 persen.  "Kalaupun rupiah terus melemah, kondisi perbankan relatif kuat meng-absorb rupiah. Jadi kondisi bank kita relatif masih aman," tegas dia saat ditemui di kantor Bappenas, Jakarta, Rabu (29/7/2015).  Mantan Kepala Ekonom Standard Chartered Bank ini menjelaskan alasan perbankan nasional membukukan CAR tinggi karena perbaikan di masa lalu, saat krisis perbankan di 1998.  "Saat itu, bank-bank Indonesia betul-betul direstrukturisasi. Aset-aset buruk perbankan diambil BPPN